Pengakuan Tersangka Penyiksaan Siswi SMP di Pontianak

Pengakuan Tersangka Penyiksaan Siswi SMP di Pontianak

Indonesian Today’s, Pontianak – Kasus penyiksaan siswi SMP di Pontianak berinisial AU (14) menginjak babak baru. Polisi akhirnya memutuskan 3 siswi SMA sebagai tersangka. Mereka ialah FZ, TP, dan NN. Kepada polisi, ketiganya menyatakan telah menyiksa korban.

Dalam konferensi pers yang dilangsungkan di Mapolresta Pontianak, Rabu (10/4) malam, semua tersangka mengungkap sekian banyak pengakuan ke publik.

Berikut beberapa pengakuan ketiga tersangka:

Membantah Melukai Alat Kelamin Korban
Para terduga mengakui perbuatannya yang sudah menyiksa korban. Namun, mereka menyatakan menyiksa secara ringan. Mereka pun membantah sudah melukai alat vital korban.

“Tidak terdapat penyintasan, penyeretan, mengguyur secara bergiliran, tidak terdapat membenturkan kepalanya ke aspal, semua itu tidak ada, apalagi melukai alat kelaminnya,” ungkap salah seorang tersangka ketika memberikan penjelasan di Mapolresta Pontianak yang difasilitasi oleh KPPAD Kalbar, Rabu malam.

Menjadi Korban Bully dan Diancam Warganet
Sebaliknya, semua tersangka menyatakan telah menjadi korban bully dari warganet di media sosial. Bahkan mereka menyatakan mendapat teror dan ancaman pembunuhan.

“Dan kalian harus tahu, di sini saya pun korban, sebab saya pun sudah di-bully, dihina, dicerca, diteror, sebenarnya kejadiannya tidak seperti itu,” ungkap tersangka.

Mengaku Menganiaya Secara Ringan
Ketiga tersangka menyatakan menyiksa korban secara ringan. Mereka membantah sekian banyak informasi di media sosial yang menyiksa korban secara kasar sampai menyebabkan luka pada alat vital/kelamin korban.

Baca Juga: Penganiayaan Audrey, Siswi SMP di Pontianak

“Dalam permasalahan ini, kami pun menjadi korban bully dari media sosial yang sudah menghakimi karena melakukan pengeroyokan dan melukai organ sensitif korban,” ungkap tersangka.

“Padahal (kami) tetap (melakukan) penyiksaan ringan, bahkan kami kini ditakut-takuti dibunuh dan terus diteror oleh warganet,” ucap siswi SMA itu.

Menjambak sampai Memiting Korban
Kapolresta Pontianak Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir membenarkan para terduga tak melukai alat vital korban. Hal ini diperkuat dari hasil visum yang tidak ditemukannya luka atau memar di lokasi sensitif korban itu.

Namun, Anwar meyakinkan semua tersangka sempat melakukan sekian banyak tindakan penganiayaan pada korban, mulai dari menjambak rambut sampai memiting tubuh korban.

“Fakta dari pemeriksaan polisi, yakni terduga menjambak rambut korban, mendorong sampai jatuh. Lalu ada terduga yang memiting dan ada terduga yang melempar memakai sandal,” kata, Rabu (10/4).

Menyesal dan Meminta Maaf pada Korban
Para tersangka menyatakan menyesal atas tindakan penyiksaan siswi SMP di Pontianak yang sudah mereka perbuat. Mereka juga meminta maaf pada korban dan keluarga.

“Kami menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya ke korban, pihak dari keluarga korban dan masyarakat umumnya,” ujar tersangka.

Atas perbuatannya, semua tersangka dikenakan Pasal 80 ayat (1) UU No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman 3,5 tahun penjara.

Namun, sesuai dengan sistem peradilan pidana anak, sebab ancaman hukuman di bawah tujuh tahun, maka dilaksanakan diversi. Merujuk pada Pasal 1 angka 7 UU No 11 tahun 2012, definisi diversi ialah pengalihan solusi perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

(den/itc)

Tinggalkan Balasan